Pengumuman

Selamat datang, jika terbantu dengan artikel, tolong click IKLAN yang ada untuk saya, terimakasih atas kebaikannya. jika ada yang di tanyakan silahkan langsung email ke taringdoberman@yahoo.com; welcome, have a nice reading, Please click commercial for me if you found my article is usedfull for you, you can contact me at taringdoberman@yahoo.com to share anything

Friday, 17 April 2015

Menghakimi Jokowi

Jokowi, sebuah nama yang mampu membuat ayah dan ibuku bertengkar hebat.  maklum Ibu pengemar fanatik Prabowo dengan macan asianya, sedang Bapak ku terjerat dengan blusukan dan senyum manis Jokowi.  sosok lembut dan kebapakkan.
Beberapa saat lalu banyak mulai menghakimi Bapak Presiden ini mulai dari tidak membaca yang di tandatangani dan polimik polri dengan calon tunggalnya, BBM nya dan lain-lain.
Ada rumor mau menjatuhkan beliau, tentunya penganut fanatik Jokowi akan bertindak dan mempunyai potensi anarkis yang biasanya akan merugikan semua orang.  belum lagi profokator yang makin lihai dalam memainkan masa. lebih meningkatkan kemungkinan terjadinya huru-hara.
Menurut saya nasi sudah jadi bubur, bagaimana caranya agar bubur tersebut nyaman untuk di konsumsi. bukan membuang bubur kecuali ada jenis makanan baru yang tentunya perubahan akan selalu memakan korban entah berujung baik atau berujung buruk.  Sebenarnya negara ini sudah berubah menjadi menejemen dengan orang,(management by man), setiap orang berganti cara kerja.  sudah jelas hal ini akan menghambat perkembangan bangsa.  mau dibawa kemana negara ini.
Saya teringat dengan Mbah Harto.  orang yang dulu saya benci dan ikut dalam prosesi menurunkan beliau dari bangku kepresidenan  dengan harapan Indonesia lebih baik.
Mungkin banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya namun salah satu produk beliau adalah GBHN.  GBHN ini yang kadang terlintas didalam kepala saya.  Garis-Besar Haluan Negara. sebuah sistem yang dibuat untuk menentukan arah bangsa entah siapapun yang memimpin. itulah idealnya. 
Indonesia Adalah kepentingan bersama, masalahnya terlalu banyak kepentingan.
dulu, jika kita berkaca dengan sejarah, indonesia bisa maju karena sistem semi militer, Penembak misterius dan lain-lain.  BIN juga mempunyai otoritas tinggi.
tidak usah berdebat dengan ini, AS mempunyai FBI dan CIA, otoritas mereka tinggi.
menghakimi Jokowi tidak menjamin apakah pengantinya akan lebih baik sebab orang meniali berdasarkan kepentingan sendiri atau kelompok.
pilihan yang terbesar terbagi dua, dukung atau lawan. untuk lawan, apakah kesalahan beliau sebesar itu, layaknya Gusdur yang banyak di persalahkan karena pendapat kelompok tertentu.  atau pilihan lain yaitu tetap mendukung dari belakang, percayakan semua kebijaksanaan kepada mekanisme.  percaya tidak ada hubungannya dengan keberhasilan. percaya itu iman.  Imani bahwa Jokowi ditunjuk Tuhan dengan segala ketidak sempurnaannya untuk memimpin Indonesia sampai waktu pemilihan datang kembali, dan kembali mendukung sepenuh hati siapa yang terpilih.

Monday, 16 March 2015

Rajah Hidup


Taman kuburan terlewat sudah,
dalam khayalan aku bergumam indahnya kematian sebab semuanya sudah berlalu begitu sepi dan hening lamunku.
Tiupan angin keras pinggir pintu melenakan aku dalam segalanya
Dalam Beberapa saat laju bus berjoget genit bringas di jalan tol yang padat, colekan sedikit kasar kondektor bus mengembalikan nyawaku ke kedeudukannya.
Aku terlahir dari keluarga cadas dan membuatku cadas
Berdirinya aku dengan muka bengis dendam cukup membuatnya gemetar dan meminta maaf karena kekasarannya seiring sebelum kepalan tangan ini hampir mengenai wajahnya yang juga terlihat susah Lembaran 20 ribuan berpindah ketangannya,
Entah kenapa dia tidak mondar mandir setelah itu layaknya kondektur,
sukurlah begitu sebab aku berniat mengait kakinya dan menghujamkan tanganku ini di muka susahnya kalau dia keberatan dengan kaitan kakiku.
Sesusah apapun itu tidak ada hakmu membuat orang lain ikut susah jawabku dalam hati.

Hari ini aku tergeram meradang, sedari pagi semua sisi hidup ini memancingku untuk memuntahkan muak dan racun yangkutahan yang mulai bengalir turun naik di tengorokanku.
Aku berharap ada yang menembakku atau memotong kepalaku ini sabab aku mau berhenti menjadi pemberang, tolong bersikap biasalah ke padaaku wahai alam.
Jatibening-jatibening, teriak supir disampingku, bergerak lincah aku melompat dan berlari menuju tempat tinggal dimana aku bermukim.
Tiga tahun lamanya aku meninggalkan kampung ini demi mimpi kini mudah-mudahanan dapat tersenyum hari ini mimpiku.
Sebelum sampai dirumah, warteg tempatku makan kusinggahi Sebentar untuk sekedar menyapa.
Memang nasibku jelek, racun-racun mengenai rumahku semenjak perantauan ini mengalir di telingaku di warteg itu.
Dia teman main dari kecil dan kecil kemungkinan dia berbohong nengenai ceritanya.
Ku pukul kepalaku dengan kedua tanganku sampai pening.
Benturan kepala ke sudut warteg itu sementara dapat menenangkan aku kurang lebih sejam, aku pingsan.

Di balik jeruji ini aku bersukur, sebab aku terkungkung disini tanpa sedih atau susah, tidak mau keluar lagi dari sini pikirku dalam hati.
Gigi yang patah, hidung berdarah kurasa nikmat selepas perkenalan penghuni penjara tadi malam Sebab kabar itu lebih perih kedalam hati.
Kalau dia punya nyawa dua, kubunuh di dua duanya, sampai di neraka pun akan kubunuh dia, tekatku dalam hati terdalam sebagai salam perpisahan hari untuk menutup mata hari ini.
Terimakasih penjara seumur hidup untukku parahakim yang budima, aku merasa lebih nyaman di balik jeruji ini.